Categories
Tak Berkategori

Hindari Ini Agar Layak Sertifikasi

Sertifikasi Kelapa Sawit Indonesia Berke lanjutan (Indonesian Sustainable on Palm Oil, ISPO) seharusnya menjadi kebutuhan, bukan sekadar kewajiban. Menurut Ahmad Furqon, Lead Auditor PT SAI Global Indonesia, dengan melakukan sertifikasi, perusahaan dan petani kelapa sawit akan memperoleh nilai tambah. “Ketika ini menjadi sebuah kebutuhan, maka upaya perbaikan terhadap temuan audit, ketidaksesuaian yang ada pada temuan audit akan menjadi added value (nilai tambah) bagi perusahaan, Bukan hanya sekadar meme nuhi persyaratan yang diberikan,” katanya. Meski begitu, banyak perusahaan yang gagal mem peroleh sertifikasi lantaran mengabaikan perkara sepele. Apakah itu? Temuan Audit ISPO terdiri dari 7 Prinsip dan Kriteria. Rinciannya, Sistem Perizinan dan Manajemen Perkebunan, Penerapan Pedoman Teknis Budidaya dan Peng olahan Kelapa Sa wit, Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan, Tanggung Jawab Ter hadap Pekerja, Tanggung Jawab Sosial dan Komu nitas, Pemberdayaan Kegiatan Eko nomi Masya rakat, dan Pening katan Usaha Seca ra Berke lanjutan. Ahmad memaparkan, ada bebe rapa te muan audit terkait Prinsip dan Kriteria yang kerap muncul dan meng hambat perusahaan lulus sertifikasi. Misalnya, aspek le galitas lahan (Prin sip dan Kriteria I) ten tang hak guna usa ha (HGU), “Ada kasus HGU-nya sudah ada tetapi tidak ada bukti pemeliharaan patok. Ada juga patok sudah ada, tapi nomor yang ada di patok tidak sesuai dengan petak atau identitas patok sudah hilang,” paparnya. Kriteria konflik dan sengketa lahan menjadi isu yang sangat disoroti. Ketika ada konflik atau sengketa lahan, perusahaan harus dapat membuktikan seng keta itu sudah selesai atau sudah ada kesepakatan antara pihak yang berkonflik. ISPO juga mengatur bagaimana perusahaan melakukan prinsip-prinsip budidaya perkebunan yang baik (Prinsip dan Kriteria II). Yang sering tidak sesuai ialah sistem peringatan dini terkait organisme pengganggu tumbuhan (OPT) dan kalibrasi jembatan tim bang atau alat ukur. “Sensus OPT tidak dila kukan se cara rutin sehingga kita tidak bisa mendeteksi se berapa jauh tanaman ini nantinya bisa memberikan respon terhadap kondisi di perkebunan,” imbuh Ahmad. Sedangkan kalibrasi jembatan timbang di pabrik kelapa sawit atau alat ukur di lab berkaitan dengan kebutuhan pelanggan. “Ketika tidak dilakukan kalibrasi, maka akan dipertanyakan hasil akhir pengolah an industri kelapa sawit,” jelasnya. Ahmad menitikberatkan upaya perbaikan berkelanjutan yang dilakukan perusahaan sebagai tindak lanjut temuan audit internal dan eksternal. Hal ini menunjukkan komitmen terhadap perbaikan atas setiap ketidaksesuaian dalam penerapan ISPO.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *