Categories
Tak Berkategori

Komunitas Bikin Harga Lebih Pantas

Andi Sudirman, pembudidaya lele sistem bioflok di Bekasi, Jawa Barat, mengaku ngenes karena tengkulak hanya menawar hasil panen dia dan sesama pembudidaya sekitar Rp14 ribu/kg – Rp15 ribu/kg.“Mereka itu nggak tahu apa? Kita sudah budidaya tiga bulan sampai megapmegap, dikasih harga cuma segitu,” sergahnya.

Harga Lebih Baik

Tak kuat menghadapi tekanan harga murah dari tengkulak, para pembudidaya lele bioflok di Bekasi terbesit untuk membentuk komunitas. Akhirnya lahirlah Komunitas Lele Biofloc Bekasi. “Kami semangat ingin bantu petani,” terang Dirman, sapaan akrabnya, yang kemudian terpilih sebagai Ketua Komunitas.

Konsepnya, lanjut dia, komunitas hanya mau mengambil lele budidaya yang menggunakan sistem bioflok. Harga pembelian Rp18 ribu/kg dan nantinya akan dijadikan olahan.

Sekarang harga lele olahannya masih dibandrol harga promo, sekitar Rp32 ribu/kg di tingkat konsumen. Dan karena baru, mereka masih belum menetapkan berapa harga setelah promosi. “Lihat nanti saja, yang jelas sekarang masih kami beri harga promo,” terangnya.

Antien Delmawanti Hamzah, Direktur Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (PPMKP) Mina Srikandi menyambut baik gagasan ini. Dengan bersemangat, ia menganjurkan komunitas ini untuk mengambil lele bioflok dari jaringannya.

Keuntungan

Abimayu, salah seorang pembudidaya merasakan keuntungan menjadi bagian dari komunitas. “Manfaatnya banyak. Kita sebagai anggota jadi lebih mudah dalam proses penjualan. Tidak harus lewat tengkulak,”akunya.

Endah, ibunda Abimanyu, sebelumnya menjual lele ke tengkulak dengan mendapat harga Rp15 ribu/kg. Kini ia bisa tersenyum lantaran komunitas mau membeli seharga Rp18 ribu/kg.

Selain itu, Abi, begitu ia dipanggil, juga lebih terbantu dengan adanya pertukaran pikiran antarsesama anggota. “Sifat kekeluargaannya erat. Saling bahu-membahu jika ada anggota yang butuh informasi dan bantuan terkait budidaya dengan sistem ini,” ulasnya. Yang terbaru, komunitas ini baru saja mengadakan pertemuan dan membahas mengenai kalender produksi.

Abi sendiri memiliki 18 kolam bioflok yang ditempatkan di dalam rumah. Dia berpendapat, sejatinya sistem bioflok merupakan jalan keluar untuk orang yang mau budidaya tapi tidak memiliki lahan yang luas.

Sementara Dirman mengakui, komunitas masih menghadapi beberapa kendala. Produksi lele dari kolam milik komunitas masih belum stabil. Ia memperkirakan, kemungkinan lele masih banyak yang mati keracunan nitrit.

Masih belum stabilnya budidaya menyebabkan komunitas ini pun mengalami kekurangan bahan baku pembuatan lele berbumbu. Karena itu Dirman mengambil lele dari anggota yang memiliki kolam sendiri. “Pembudidaya lele memang banyak, tapi kita hanya mau mengambil lele yang dibudidayakan dengan sistem bioflok,” papar warga Bekasi itu.

Siapa pun pembudidaya lele bioflok bisa menjual hasilnya ke komunitas ini. Jika ingin bersilaturahmi dan diskusi, bisa langsung datang ke Perumahan Dukuh Zamrud Blok I 13 No.27, Jalan Raya Zamrud Selatan Blok, Cimuning, Mustikajaya, Kota Bekasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *