Memajukan Pertanian, Agricon Buka Sekolah Lapang

Memajukan Pertanian, Agricon Buka Sekolah Lapang

Perusahaan agrokimia berbasis di Bogor, Jawa Barat, ini membuka wahana belajar bersama petani yang diberi nama Sekolah Lapang Agricon (SLA). Satu unit SLA melibatkan mini mal 25 orang petani dan didampingi seorang fasilitator rekrutan Agricon. Rencananya, Agricon akan membuka 104 unit SLA dengan 26 fasilitator yang tersebar di seluruh sentra padi.

Pelak sanaannya sejak Februari 2017. “Saat ini su dah dibuka dan berjalan sebanyak 66 unit SLA. Sisanya akan dimulai pada musim tanam April dan Mei,” ungkap De ni Cahya Adamsyah, Technical Sup port Manager PT Agricon Indonesia da lam pembukaan SLA di Desa Pa yung sari, Kec. Pedes, Kab. Karawang, Jawa Barat, Kamis (30/3). Sementara itu Budi Widodo dalam pembukaan SLA di Desa Gandri, Kec. Pang kur, Lamongan, Jawa Timur, Kamis (9/3), menjelaskan, Agricon memiliki misi untuk membantu petani meningkat kan produksi dan mengamankan hasil panen mereka. “Misi kami juga membantu petani agar kualitas pro duksinya meningkat,” tutur Technical & Marketing Manager PT Agricon Indonesia ini.

Sarana Belajar Bersama

SLA bertujuan untuk menjalin ko munikasi dan wujud terima kasih Agricon kepada petani sebagai pahlawan pangan. “Kami tidak bermaksud meng gurui, tetapi SLA ini sebagai sarana saling berbagi ilmu dan pengalaman bersama. Karena itu, kita berkolaborasi supaya ha sil di lahan bisa meningkat,” terang Deni yang juga Manajer SLA. Budi menambahkan, sekolah lapang dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab PT Agricon dalam memajukan pertanian di Indonesia. SLA, menurutnya, sejalan dengan program pemerintah yang disebut Sekolah Lapang Pengendalian Hama Terpadu (SLPHT) ataupun Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT). SLA, lanjut Budi, tidak hanya melibatkan petani, tapi penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan juga instansi terkait. Agricon melalui fasilitator mentransfer pengetahuan tentang budidaya padi, Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) dan pengendaliannya selama satu musim tanam. “Selaku formulator, Agricon bertanggung jawab dan berkomitmen kepada du nia pertanian Indonesia.

Hal serupa juga pernah dilakukan pada 2004 di seluruh Indonesia,” imbuhnya. Sarana belajar ber sama itu dinamakan sekolah lantaran mengandung tiga unsur penting, yakni mengedukasi, memberdayakan, dan menggerakkan. Di dalam SLA terdapat proses pembelajaran (edukasi) bersama. Saling bertukar informasi terkait temuan-temuan inovatif yang dapat diadopsi petani seluruh Indonesia melalui media so sial dan teknologi lain. Misi kedua memberdayakan petani agar bisa meningkatkan produksi. “Kegiatan ini diharapkan dapat diapli kasikan ke lahan mereka masing-masing. Semua diniatkan menggali ilmu dan ber bagi ilmu bersama-sama agar hasil meningkat sehingga menyejahterakan,” harap alumnus Jurusan Budidaya Perta nian, Faperta IPB, ini. Misi ketiga menggerakkan petani agar mereka mempengaruhi petani lainnya untuk berbudidaya padi dengan baik. Misalnya, dengan berbagi pengalaman di antara petani yang sukses akan berbagi pengalaman, baik dalam satu desa maupun di desa lain. SLA akan ber langsung sekitar 3 bulan atau satu musim tanam padi dengan 12 kali pertemuan.

Hari dan jam pertemuan berdasarkan kesepakatan dengan petani. Demikian pula materi dan topik bahasannya disepakati bersama menyesuaikan dengan apa yang terjadi di lahan. Para petani dibagi menjadi lima kelom pok kecil untuk melakukan pengamatan, presentasi, dan diskusi, lalu membuat kesimpulan tentang tindakan yang perlu dilakukan. Kegiatan ini berlangsung hingga panen. Hasil panennya kemudian dibandingkan dengan pe tak kontrol yang perlakuannya meng ikuti kebiasaan petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *