Pameran Alsintan Terbesar di Asia

Pameran Alsintan Terbesar di Asia

Kedua perusahaan itu, yakni DLG International GmbH, konsultan yang fokus pada layanan untuk organisasi agribisnis dan industri ma kanan. Dan VNU Exhibition Asia Pacific. Co.Ltd, penyelenggara pameran da gang dan konferensi patungan Belanda dan Thailand yang bermarkas di Thailand. Pameran ini diharapkan menjadi ajang promosi dan perdagangan terbesar pertama untuk alat dan mesin pertanian (alsintan) dengan fokus pengunjung peng usaha pertanian besar dari se luruh wilayah Asia Pasifik.

Istimewa nya, Agritechnica Asia ini diselengga rakan paralel dengan Horti ASIA 2017, pameran dagang yang mengetengah kan teknologi dan inovasi terbaru ko mo ditas hortikultura dan VIV Asia 2017, pameran industri peternakan terbesar di Asia. Nino Gruettke, Managing Director VNU Exhibition Asia Pacific. Co.Ltd me nga takan, “Bekerja sama dengan DLG akan menghasilkan platform bisnis yang luar biasa untuk pasar Asia. Yang paling penting, kami mengajak seluruh industri untuk melayani kebutuhan sektor pertanian.” Sementara Achim Schaffner, Kepala Ekonomi Pertanian DLG memandang wilayah Asia sebagai sentra pengembangan perdagangan pangan dan inovasi agribisnis untuk produksi pangan yang berkelanjutan. “Asia adalah bagian yang sangat penting dari rantai pa so kan pangan global dengan lahan luas dan sumber daya alam yang kaya. Saya percaya pameran ini akan membawa plat form baru dan peluang untuk pe ngem bangan pertanian di wilayah ini,” cetusnya.

Tingkatkan Produksi Asia

Agritechnica Asia 2017 berfokus pada solusi teknis pertanian yang relevan dan penting untuk pengembangan pertanian di Asia Pasifik. Mekanisasi melibatkan mesin modern akan meningkatkan produksi secara signifikan dengan mengatasi kesulitan tenaga kerja dan mening katkan efisiensi untuk mengurangi biaya produksi. Pada acara tersebut bakal ada konferensi sehari “Tren Teknologi Pertanian di Asia” berisikan teknis budidaya yang canggih dari DLG untuk padi, singkong, dan tebu. Konferensi yang didukung CLAAS, produsen mesin pertanian asal Jerman ini memungkinkan DLG melaku kan transfer pengetahuan kepada para petani di Asia melalui teknologi inovatif untuk pertanian. “Tujuan utama kami adalah mengembangkan pasar baru bersama-sama dengan industri mesin pertanian.

Kami akan membawa para pengambil keputusan dari ASEAN, Tiongkok, India, Jepang, Korea, dan Timur Tengah,” kata Bernd Koch, Managing Director DLG International GmbH. Pameran perdana Agritechnica Asia ini akan menampilkan mesin-mesin pertanian dan peralatan terkemuka di dunia. Terutama mesin pertanian untuk ta naman yang banyak dibudidayakan di Asia, seperti padi, tebu, singkong, ja gung, umbi-umbian, kelapa sawit, dan gandum. Sejauh ini jumlah peserta pameran lebih dari 221 perusahaan dari Asia dan Eropa. Sementara jumlah pengunjung ditargetkan sekitar 8.000-an orang dari berbagai negara di Asia. Pameran akan terhampar dalam area seluas 7.550 m2 .

Didukung Perusahaan Raksasa

Pameran ini didukung enam perusa haan multinasional produsen mesin pertanian, yaitu AGCO/Massey Ferguson (Amerika Serikat), CLAAS (Jerman), Fliegl (Jerman), Lovol (Tiongkok), Mas chio Gaspardo (Italia), dan Pottinger (Austria). Menurut Benjamin S. Punyaratabandhu Bhakdi, Regional Director CLAAS Global Sales GmbH, pihaknya berharap akan hadir lebih banyak pengunjung, pelaku industri, dan pengusaha. “Kami juga berharap ada ruangan khusus untuk berdiskusi antara para ahli termasuk CLAAS, membicarakan permasalahan yang dihadapi konsumen dan bagaimana solusinya yang benar-benar spesi fik,” ujar Benjamin ketika diwawancarai di Bangkok, baru-baru ini.

Selain lima perusahaan itu, dua perusahaan berikut mewakili peserta pameran, yaitu AG Growth International (AGI) dan Thaus Co. AGI dari Kanada, pro dusen alsintan di bidang penangan an biji-bijian, rantai dingin, dan peralat an penyimpanan hasil pertanian. Victo ria Umin, Senior Director International Sales AGI, menjabarkan, produk-produk AGI merupakan salah satu yang paling terkemuka di bidang pertanian global de ngan pengalaman selama 160 tahun. “Kami percaya hubungan yang kuat dan kualitas produk merupakan landasan untuk sukses. Filosofi ini memandu kami bekerja dan menjalin hubungan dengan petani, pedagang biji-bijian, pro sesor dan fasilitas pe la buhan di berbagai negara,” ujar Victoria Umin ketika ditemui di Bangkok, 9 Sep tember lalu. Dalam rangka memperluas pema sar an di Asia, ia ber harap jumlah peng unjung yang banyak sehingga lebih ba nyak kesempatan, ti dak hanya untuk men jual produk, te tapi juga berbagi pe ngetahuan tentang tek nologi penangan an bijibijian. AGI memiliki fasilitas produksi di Kanada, Ame rika Serikat, Inggris, Brasil, dan Italia. Dari kelima negara itu produk-produk AGI didistribusikan ke seluruh dunia. Harapan besar juga dilontarkan Wish nu Nair, Regional Director Asia Pacific Thaus Co., Ltd.. Nair mengatakan, dalam pameran Agritechnica Asia 2017 mendatang, Thaus menawarkan, pemanfaatan perangkat teknologi GPS berlabel Trimble Agriculture Intro guna mengetahui saat yang tepat untuk mengolah lahan, menanam dan memanen ber dasarkan data angin, cuaca, dan hujan.

Bahkan dari data tersebut bila dianalisis secara mendalam akan dapat diketahui hama dan penyakit yang bakal menye rang sehingga bisa diantisipasi lebih dini. Lebih jauh Nair mengungkap, teknologi penginderaan yang diperkenalkannya ini mula-mula dikembangkan di Aus tria untuk mendeteksi penyakit buah apel yang banyak muncul saat musim hujan. Para pakar lalu mengembangkan sistem sensor yang mampu meng kalkulasi penyakit, kemudian merancang pemantau dengan tenaga surya, dan melaporkan datanya secara real time kepada sang pemilik kebun. Dalam perkembangannya, Thaus juga menciptakan Irrigate-IQ Solution yang mampu mendeteksi kadar air di sekitar akar tanaman.

Ketika kadar air berkurang, alat tersebut akan memberi sinyal ke pompa air yang memiliki sensor untuk menyiram tanaman secara otomatis. Dengan mengoperasikan alat ini, petani dapat memastikan tanaman selalu mendapatkan air yang cukup sehingga bisa meningkatkan kualitas tanaman dan produksinya. “Bahkan dengan alat ini, petani bisa mengoptimalkan sumber daya air, meningkatkan efisiensi penggunaan air, meminimalkan biaya irigasi, pupuk/ obat-obatan; dan mengurangi biaya energi untuk bahan bakar dan listrik,” jelasnya dalam bahasa Melayu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *